Jumat, 23 November 2018

Nadiem Makarim dan Go Jek


     Dibalik kesuksesan GoJek, ternyata ada sosok pendiri yang bernama Nadiem Makarim yang menjadi pucuk pimpinan. Nadie Makarim pendiri GoJek, lahir pada 4 Juli 1984. Beliau sempat mengenyam pendidikan SMA di Singapura, pendidikan sarjana di International Relations di Brown University Amerika Serikat. Pendidikan Master di Harvard Business School. Sebelum Nadiem Makarim mendirikan GoJek, Beliau juga pernah bekerja di sebuah perusahaan konsultan Mckinsey & Company, Managing Editor di Zalora Indonesia, Chief Innovation officer di kartuku. Berdasarkan pengalamannya tersebut Nadiem Makarim mendirikan GoJek.
     Nadiem Makarim pendiri GoJek saat ini menjadi CEO PT GoJek Indonesia. Nadiem memposisikan PT GoJek Indonesia merupakan Penyedia jasa transportasi ojek di Indonesia yang berkembang pesat setelah meluncurkan aplikasi di ponsel pada awal 2015. Saat ini Nadiem Makarim pendiri GoJek telah membuktikan prestasi yang luar biasa, setidaknya ada lebih 10 ribu supir ojek yang tergabung dalam GoJek. Salah satu sumber peningkatan yang drastis karena adanya aplikasi berbasiskan Android. Harapan Nadiem Makarim pendiri GoJek adalah, perusahaannya PT. Gojek dapat membantu serta melayani seluruh masyarakat Indonesia dimanapun mereka berada. Model bisnis yang diterapkan GoJek adalah skema bagi hasil dengan supir ojek. GoJek hanya mengambil bagian 20% dan sisianya 80% adalah bagian pengendara ojek. GoJek memberikan fasilitas kepada supir berupa jaket, helm dan HP Android. Terkahir terdapat pemberitaan GoJek juga memberikan perlindungan asuransi kesehatan dan kecelakaan kepada supir.

Ferry Unardi dan Traveloka


     Ferry Unardi lahir di kota Padang, 16 Januari 1988. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah, Ferry melanjutkan pendidikannya di Purdue University jurusan Computer Science dan Engineering. Usai lulus kuliah S1, Ferry kemudian bekerja di Microsoft, Seattle sebagai software engineer. Setelah bekerja selama tiga tahun, Ferry berpikir bahwa dirinya akan sulit menjadi seseorang yang terbaik di sana. Hingga suatu ketika, saat ia tengah merasa suntuk dengan pekerjaan yang digeluti, ia pun memilih untuk traveling ke Cina. Siapa sangka, ia justru mendapat sebuah ide cemerlang untuk membangun bisnis di industri travel dan penerbangan.

     Sayangnya, meski ia merupakan seorang insinyur software engineer, pria berusia 30 tahun ini justru tidak terlalu percaya diri untuk membangun bisnis start up. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 Bisnis di Harvard University. Setelah kuliah jalan 1 semester, Ferry justru baru tertarik untuk mengembangkan perusahaan start up di bidang mesin pencarian tiket pesawat. Bisnis tersebut dipilih karena ia merasa kesulitan saat memesan tiket pulang ke Indonesia. Dari sanalah tercetus ide untuk mengembangkan sebuah mesin pencari tiket pesawat dengan teknologi yang gampang, fleksibel dan juga modern tentunya.

     Di tahun 2012, Ferry mulai meluncurkan Traveloka. Namun saat itu Traveloka hanya sebuah situs pencari dan pembanding harga tiket pesawat yang didirikan bersama dua orang sahabatnya, yaitu Derianto Kusuma dan Albert Zhang. Namun, kemudian Ferry melihat kalau banyak orang yang tak hanya ingin mengetahui perbandingan harga tiket pesawat, tapi juga ingin memesan tiket secara langsung. Tepat di pertengahan tahun 2013, Traveloka akhirnya berubah menjadi situs pemesanan tiket pesawat. Setelah meluncurkan Traveloka, banyak hal yang harus dipelajari oleh Ferry. Tantangan terberatnya adalah menemukan cara mengembangkan perusahaan dengan jumlah karyawan yang hanya delapan orang saat itu. Hal itulah yang membuat Traveloka berkembang dengan pesat hingga saat ini. Bahkan kabarnya perusahaan ini memiliki nilai valuasi mencapai sekitar Rp 26,2 triliun dengan jumlah kunjungan website mencapai 16,5 juta orang setiap bulan.


Ahmad Zacky dan Bukalapak


     Achmad Zaky merupakan pendiri Bukalapak adalah laki-laki yang lahir di Sragen, 24 Agustus 1986. Masa kecilnya sama saja dengan masa anak kecil pada umumnya. Ia tumbuh besar dan bersekolah di Sragen, TK-SMA di Sragen , Jawa Tengah. Minat dari Achmad Zaky didunia komputer terlihat pada tahun 1997 atau sejak usianya masih 11 tahun. Ia pernah dibelikan pamannya buku tentang dunia komputer. Dan sejak itu pula, dia menjadi punya hobi mengotak-atik komputer. Ia merupakan anak yang cerdas pula. Prestasinya juga terlihat sejak dia bersekolah. Contohnya saja saat SMA, ia ditunjuk oleh sekolahnya yakni SMA N 1 Solo untuk mengikuti lomba  Olimpiade Sains Nasional (OSN) dibidang komputer. Tak berhenti disitu saja, ia juga menang sampai tingkat nasional. Tak berhenti disitu saja, dia juga diterima di perguruan tinggi di ITB dan mengambil jurusan yang masih berhubungan dengan hobinya, yakni Teknik Informatika.

     Dalam waktu 2 bulan, ia dapat menyelesaikan Fase pengembangan Bukalapak. Setelah itu, Achmad Zaky mengajak para pedagang yang berada di mall untuk bergabung di bukalapak. Tapi respon yang diberikan oleh pedagang mall tersebut sangat rendah dan malah justru respon positif diberikan oleh pedagang kecil. Pedagang yang tidak mau bergabung mungkin memikirkan hal itu akan malah menjadi ribet. Sehingga Achmad Zaky bersama tim fokus mengajak para pedagang untuk bergabung di Bukalapak.

     Achmad Zaky dan tim Bukalapak pun juga gencar untuk mendekati komunitas-komunitas untuk menggunakan bukalapak. Salah satu yang diajak adalah komunitas sepeda. Dan lama kelamaan pengguna yang berjualan di Bukalapak semakin banyak dan pengunjung web pun juga mengalami kenaikan yang signifikan. Para pedagang yang awalnya ragu berjualan di Bukalapak mulai mendapati penghasilan mereka meningkat. hingga pada tahun 2011 Bukalapak telah berhasil memiliki 10.000 pedagang dan jumlah tersebut terus bertambah sampai saat ini. Bukalapak.com dapat berdiri dari hasil kantong pribadi para pendirinya.  Semakin lama, semakin banyak transaksi  yang dilakukan di Bukalapak. Dalam sehari ada 4  sampai 5 Milyar rupiah total transaksi di Bukalapak.com.